Reflesi Live In yang walaupun singkat tetapi mengugah…..suatu keprihatinan………..!

Kalaulah Yin dan Yang merupakan dua hal yang sangat berbeda, begitu juga lah dengan kaya dan miskin yang terjadi di dalam dunia ini. Berdampingan, menyatu, hidup di tengah-tengah masyarakat Indonesia. Tidak ada yang perlu disesalkan, tidak ada yang perlu disalahmengertikan, tidak ada yang perlu disalahkan dalam hal ini. Fenomena akan keadaan ini memang harus selalu ada. Seandainya tidak ada maka terjadilah keanehan “ Bagaimana jadinya kalau semua orang miskin“. Siapakah yang menjadi orang kaya?…Sesuai dengan teori kehidupan semua akan mencapai keseimbangan. Tapi masalahnya, keseimbangan itu adalah hal yang sangat susah untuk dicapai

Dalam realita kita, kecenderungannya adalah setiap orang berkeinginan untuk memiliki banyak harta dan itu juga berlaku bagi saya sendiri. Pernah aku berkeinginan mengubah dunia ini. Caranya adalah menjadi orang yang sukses dulu, punya uang banyak, barulah membantu orang yang miskin dan terlantar. Ternyata keinginan itu harus kukubur. Kenyataan yang terjadi dalam masyarakat mengharuskan kita berbuat sesuatu dari sekarang. Ternyata kemiskinan itu terjadi akibat martabat manusia yang terkadang sering dilecehkan. Kita dapat membayangkan kalau semua orang saling membantu tanpa terkecuali. Kata miskin yang dalam pengertian sempit tidak akan muncul di dunia ini.

Pengalamanku yang sedikit tetapi mungkin mengesankan bermula di Sanggar Anak Akar. Sebuah tempat yang dimana kita menemukan sahabat-sahabat kita yang mungkin tidak mengalami nasib yang sama dengan kita. Sahabat yang mungkin bertanya dalam hatinya apakah Tuhan itu adil. Sahabat yang tetap tertawa, tersenyum dalam kesedihan mereka. Salah satu hal yang paling ditekankan dalam sanggar ini adalah pendidikan yang melibatkan semua pihak sesuai hak mereka. Dan hak seorang anak adalah pendidikan tersebut. Pendidikan sebagai penekanan terhadap misi mereka adalah hal yang sangat penting dalam mengubah lingkaran kemiskinan. Pendidikan memang dirasakan sangatlah perlu.

Perjalananku bermula ketika aku harus ditempatkan di daerah Cipinang Selatan yakni daerah yang termasuk wilayah yang dekat dengan aliran sungai. Di sana bertemu dengan sebagian besar orang yang menggantungkan hidupnya pada hasil memulung yang mereka kerjakan. Gambaran tentang daerah yang kotor, dan kurang menyenangkan akan kita jumpai di tempat ini. Kebetulan untuk MCK, sudah boleh dikatakan memadai dengan adanya kamar mandi umum, dan air yang berasal dari PAM yang boleh mereka rasakan. Tapi sayangnya kejadian ini mereka peroleh belum beberapa lama yang dalam artian mereka pernah mengalami masa di saat bangunan seperti untuk MCK tersebut itu tidak ada.

Mendalami kehidupan anak-anak di wilayah ini adalah cukup menyenangkan. Mereka mempunyai tradisi tersendiri dalam kesehariannya. Suatu keadaan yang cukup menyenangkan adalah ketika anak-anak tersebut tertawa, menikmati hidup ini tanpa memperdulikan setiap apa beban yang mereka alami. Mereka berlari, bercanda bersama, dan terkadang di akhir minggu begadang bersama menghabiskan malam itu.

Kata yang paling dibenci oleh para saudara saya yang ada di sana adalah kata penggusuran dan kebanjiran. Dua kata ini lah yang membuat terkadang hidup mereka seolah-olah dihantui akan hal yang dapat membuat mereka kehilangan kebahagiaan mereka. Saya mendapatkan kabar bahwa sampai sekarag mereka sangatlah dihantui dengan penggusuran yang kabar burungnya menyatakan bahwa sesudah pemilu akan dilaksanakan di daerah mereka. Mereka bingung tentang apa yang harus mereka lakukan ketika hal itu harus terjadi. Hal itu disebabkan oleh kebijakan pemerintah yang akan memperbaiki daerah aliran sungai di tempat itu. Mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa ketika terjadi hal tersebut. Bagi pemerintah, sangatlah mudah melakukan tindakan tersebut karena tidak dilengkapinya surat-surat kepemilikan bangunan dan tanah. Mereka juga tidak membayar pajak kepada pemerintah.

Hal yang juga sangat mereka benci akan gejala kebanjiran yang terjadi. Bisa-bisa banjir itu bias membuat hidup mereka berantakan. Mereka dituntut waspada dalam setiap kenaikan tinggi air di sungai tersebut. Mereka menyatakan bahwa setiap kali banjir bisa mencapai 7 m dan membuat mereka harus mengungi ke daerah lain. Mereka juga bisa kehilangan harta benda mereka.

Fenomena ini sangatlah bertentangan dengan pemerintah yang dituntut menjadi sahabat bagi semua masyarakat. Saya beranggapan bahwa seharusnya pemrintah dapat memnatu masyarakat di sana. Bukan hanya melakukan tindakan tegas berupa penggusuran, tetapi juga harus diiringi dengan tindakan yang bijaksana diantaranya memberikan hal yang membangun dan bersifat rangsangan bagi mereka. Diantaranya adalah memberikan program transmigrasi dan bantuan modal di tempat yang baru sehingga mereka lebih gampang meninggalkan tempat tersebut …