Hari ini jam malam. Waktu menunjukkan 0 : 27

 

Telah habislah sudah film yang berjudul XL, extra large yang dengan suatu keterangan “ Antara Aku, Kau, dan Ma Erot “. Lagi-lagi topik yang selalu diambil adalah para wanita tunausila alias pekcun. Mengambil sisi negatif seorang pekcun yang nota bene menyusahkan kehidupan keluarga di Indonesia. Bisa juga kita analogikan bahwa melihat keluarga yang bahagia di Indonesia, lihatlah tempat perjudian, tempat pelacuran, dan hiburan tak sehat lain. Semakin besar minat masyarakat akan hal itu, dapat dipastikanlah bahwa kehidupan keluarga akan semakin carut marut.

 

Sayangnya penulis merasakan gejolak yang membahana saat memasuki adegan ranjang yang sang lelaki yan gmenjadi tokoh utama dirasakan oleh penulis sebagai pribadi yang sangat bodoh dalam hal bercinta. Jadi timbullah kata “SIKAT aja ce tuh “ yang terlontar dari pemikiran kotor  gw..”  Sayangnya, selau didesain oleh sang sutradara untuk tidak jadi-jadi. Hatiku juga semakin gundahlah. Memang film yang buka-bukaan dikit lebih bagus daripada film porno. Hal itu dirasakan penulis sebagai kebebasan berimajinasi ketimbang film seks biasa,,,, ((( hahhaha )))…Tapi, lagi-lagi aku terkesima dengan cinta yang mengalahkan segalanya. Salut deh sama Raam Punjabi yang menyutradarai film ini. Kemelacuran dijadikan penulis sebagai dua hal yang terpisah satu sama lain. Dan begitu indahnya seks yang diiringi degan rasa cinta. Bahkan mengalahkan setiap kekurangan yang kita miliki ( dalam film ini sang tokoh utama mendapatkan masalah dengan ukuran penisnya, berusaha mencari cara, tetapi tidak ada yang benar ). Cinta itu menerima apa adanya tanpa ada dusta.

 

Lagi-lagi dengan tegas penulis  ( Raam Punjabi ) menuturkan bahwa melacur itu sebenarnya bukan suatu pilihan. Sisi keterpaksaan lah yang paling utama. Siapa cewek yang rela harga dirinya diinjak-injak melalui pelacuran. Namun, hal ini lah cara yang paling cepat. Praktis, mereka punya hal yang menjadi alasan kuat mereka memasuki dunia laknat tersebut. Eh, sang penulis sempat mengatakan kata ‘ laknat ‘.

 

Apakah pelacuran itu memang laknat???

 

Kalau kita berbicara tentang pelacuran yang biasanya berkaitan dengan kehidupan, kita juga harus mempertimbangkan hakikat dari kehidupan itu sendiri. Orang cenderung mempersalahkan mereka tanpa memikirkan setiap hal yang menyebabkannya.

 

Kita lihatlah perbandingan jumlah wanita dan pria, saya hampir bisa menyimpulkan bahwa jumlah pria jauh lebih sedikit dari jumlah wanita Berarti saya bisa berasumsi bahwa, tak ada jalan lain untuk menyeimbangkannya selain poligami dan pelacuran.

 

Cara yang kedua yang mungkin lebih terpuji dipilih oleh orang Katolik yakni menjadi seorang Suster., sementara Pastor ( pria ) juga semakin berkurang ). Mungkin juga melalui pengabdian sepenuhnya menjadi seorang yang tidak menikah dan menjadi pekerja sosial.