Memberi dan menerima

Korean Kiss; sebuah cuplikan sederhana mengenai arti sebuah pengorbanan. Seorang pria yang merelakan matanya bagi pujaan hatinya demi perasaan cinta. Apakah cinta itu ???

Kalaulah saya dihadapkan dengan pertanyaan “ manakah yang kamu pilih, memberi atau menerima ???

Saya akan mulai menjawab hal itu dengan pertama kali menganalogikan hal itu dengan mencintai dan dicintai. Memberi sebagai awalan dapat dikatakan sebagai proses melakukan pekerjaan dan dimana kita berposisi aktif sementara ada orang yang kita kenai pekerjaan tadi. Memberi dalam hal ini dipandang sebagai hak yang kita punya menjadi kepunyaan orang lain. Terserah itu bagaimana pun bentuk dan caranya. Saya susah untuk memilih karena memberi dan menerima adalah suatu hal yang simultan dan sangatlah tak boleh dipisahkan. Dalam pengantar pertama kukatakan bahwa seorang cintawan mampu memberikan sesuatu yang sangat berharga, tetapi dalam hal ini saya berani mengatakan bahwa apabila dia tidak merelakan mata nya untuk didonorkan, berarti dia telah mengorbankan perasaannya. Berarti dalam hal ini dia telah mengorbankan matanya dan akibatnya perasaannya menjadi plong..

Terlepas dari itu semua. Terkadang kita mempunyai alasan untuk memberi. Kalau saya diajarkan orangtua saya bahwa memberi sebagai sebuah karma. Karma dimana suatu saat nanti, aku akan mendapatkan hal seperti itu juga, entah dalam keadaan apapun yang kita tidak bisa memprediksinya. Bak tuaian padi seperti itu lah analogi dari memberi dan menerima dalam konsep berpikir seperti ini. Jadi, kadang orangtua saya melakukan perbuatan baik dan berpikiran bahwa sang anak ( red : frans ) bakalan meperoleh nya di tanah rantau nya…

Kalau dalam persahabatan, sudah pastilah, dan tak dapat diingkari bahwa fenomena memberi dan menerima adalah suatu hal yang sangat penting. Terserah kata orang bahwa dia adalah seorang sahabat yang baik dimana tak memikirkan hal tersebut. Ketika seorang sahabat memikirkan untuk tidak mengecewakan sahabatnya, dapatlah dikatakan bahwa dia sendiri telah memberi sesuatu yang terbaik buat sahabatnya. Pengalaman saya adalah orang cenderung memberi ketika dia telah menerima. Suatu kenyataan yang boleh dikatakan sebagai hipotesis yang hampir benar. Memberikan bantuan pun akan lebih mudah.

Jadi dapat dikatakan sebagai CINTA BERSYARAT, KASIH BERSYARAT, PERSAHABATAN BERSYARAT, MEMBERI BERSYARAT

Tetapi ada kalanya kita melihat ada pengorbanan yang tanpa syarat dan bahkan diakui oleh semua orang yakni Cinta Tuhan Allah ( agave ). Memberi dan menerima bukan lah hal yang baku bagi Tuhan. Kalau kita renungkan ini karena cinta Tuhan sendiri kepada umat manusia. Dan menjadi suatu kepastian bahwa kita harus menyadari bahwa Tuhan itu tanpa dipuja, dipuji, disyukuri, Ke- maha annya pun tak akan berkurang.

Hanya debulah aku
Di alas kaki mu Tuhan
Haus kan titik embun
Sabda Penuh Ampun

Tak layak aku tengadah
Menatap cahya- Mu
Namun tetap kupercaya
Maharahim engkau

Dan sekarang saya mempunyai formula yang baik ketika kita memberi karena memberi aku anggap sebagai perbuatan yang lebih susah dilakukan alias perlu pengorbanan. Memberi karena kita sudah diisi oleh Tuhan dan kita menawarkan apa yang telah diisi dengan Tuhan yang dalam hal ini kukatakan sebagai berkat. Berkat baik berupa kepandaian, kekayaan, dan sebagainya.

KITA BAIK KEPADA ORANG LAIN KARENA TUHAN TELAH BAIK.. ( kata guru agama saya : Pak Yitno, STAN )