Cinta Segitiga ( 4 ) : Gambaran akan moral dan hubungannya dengan relasi sesama

You are beautiful

Suatu kecenderungan dari seorang manusia adalah dihargai sesuai kemampuan. Namun sayangnya, penulis merasa, ketika ada kemampuan orang lain yang menyaingi kita, kita bakalan berusaha mematikan orang tersebut. Kali ini, disebutkan bahwa kita itu indah. Menyadari bahwa keindahan tersebut, kita memujanya. Berani mengatakan kepada orang lain, ” Kau Cantik ( tetapi tak bermaksud ganda Lho, memuji ada maunya ”)

Kamu itu adalah bagian dari hidupku. Aku tak bisa hidup tanpamu ( dengan segala kekurangan dan kelebihanmu ) sebenarnya adalah statement yang seharusnya terjadi. Kelebiha dioptimalkan dalam menutupi kekurangan dan kekurangan diminimalisir demi perkembangan kelebihan. Jadi, peran manusia sebagai mahluk sosial akan mengangkat hakikat kita sebagai orang yang berjiwa membutuhkan orang lain dan perasaan saling membimbing kita ke suatu kesinambungan siklus hidup manusia yakni memberi dan menerima.

But since they call ”god in with different names, they can’t love each other.

Sebuah kata yang terucap dan mengandung banyak arti dan sarat akan pertentangan. Kejadian Sodom dan Gomora tak boleh dilepaskan dari perkataan ini walaupun kita menyadari kejadian yang meskipun adalah karangan atau inspirasi dari pengarang sejarah, tetapi cukuplah diamini oleh semua orang kalau hal itu memang terjadi sehingga banyak bahasa di bumi ini.

Namun yang disayangkan adalah hubungan yang berbeda dan timbul ketika dua insan manusia dibatasi oleh perbedaan tersebut. Dan menjadi hal yang lumrah juga kalau disinggung mengenai perkawinan tersebut, orangtua dan pihak-pihak adat yang dirasa penulis hanya bisa menyarankan kalo sang anak setidaknya berusaha mencari yang seiman. Kebetulan aku adalah orang Batak, orangtuaku hanya bisa berpesan, ya kalo boleh punya pacar orang Batak juga. Katanya sich lebih enak dan mudah dalam pengurusan adat.

Ketika Allahku dan Allah mu berbeda secara pemikiran kadang membuat dunia ini akan semakin kurang indah dan menimbulkan tantangan mendalam dan cenderung mempersulit keadaan. Entah karena apa, karena keyakinan dan pengalaman, saya hanya bisa berasumsi bahwa Tuhan kita adalah satu dan itulah Tuhan yang disebut dengan berbagai ke-Maha an-Nya.

Mempunyai istri yang berbeda dalam hal memanggil Tuhan ( dipersempit sebagai perbedaan dalam agama)mempunyai konsekusensi tersendiri dan dia-nya harus berani bertanggung jawab akan pilihannya tersebut. Dalam realitas masyarakat, cinta dihadapkan dengan kenyataan yang tak sesuai dimana sang benih tersebut akan berkembang dengan subur.