Cinta Segitiga ( 5 ) : Gambaran akan keberagaman aliran agama

Kita kawin yuk.Agama adalah propaganda paling efektif dalam bunuh-bunuhan manusia.

Ketika mendengar seruan tersebut saya teringat akan Perang Salib yang banyak menewaskan banyak orang. Mungkin saya sebagai orang yang tidak tahu akan kebenarannya hanya bisa menyangka bahwa perang itu karena kekuasaan belaka. Entah itu Kristen, entah Muslim terkadang diperalat oleh yang namanya kekuasaan dan politik yang berlaku di tengah masyarakat waktu itu. Lagi-lagi kekuasaan, pemerintahan, pendudukan sangat dibutuhkan oleh sebuah oknum tertentu. Apabila sebuah daerah sudah dikuasai, dapatlah saya katakan bahwa eksistensi nilai dan budaya serta kepercayaan daerah tersebut akan menghilang.

Setiap agama mengajarkan kebaikan bagi semua orang. Mengapa harus ada peperangan tersebut. Tak lain lagi karena kekuasaan politik tadinya. Setiap agama pengen pemeluknya semakin bertambah. Dan lagi-lagi minoritas bukanlah sesuatu yang diharapkan semua orang. Menjadi kecil dengan hati yang tenang dan damai sangatlah susah dan kecenderungannya orang ogah menjadi hal tersebut. Dengan menjadi minoritas, kekuasaan akan semakin berkurang. Dan kembali dalam hal yang mendasar dalam dosa manusia adalah uang, harta, wanita ( bagi yang cowok lho ) yang nota bene terkait dengan cara manusia jauh dari Tuhan itu sendiri. Apalagi, yang marak sekarang adalah kasus AA yang melibatkan faktor ketiga dari dasar dosa tersebut.

Di dunia ini sudah kebanyakan agama, kebanyakan Tuhan. Orang bodoh yang tak tahu apa-apa lebih mudah untuk diprovokasi

Semakin banyak, dan plural nya berbagai agama dirasakan penulis sebagai akibat dari rasa bebas dari pemeluknya. Dalam agama tertentu saja banyak aliran tertentu yang mungkin dengan ajaran baru baik yang masih berasaskan agama tersebut, dan juga aliran lain yang seolah-olah mirip agama tersebut yang mungkin tidakditerima di masyarakat. Kejadian yang masih berdesas-desus sampai sekarang yakni aliran yang mengakui kemesiasan seseorang yang dianggap utusan Allah.

Terserah lah semua agama dan aliran yang berbeda. Dalam konsepsi Human Rights, setiap orang dirasakan mempunyai hak mendasar sama yakni beragama, dan itu sudah menjadi bagian Indonesia. Hak itu hampir sama dengan hak untuk hidup yang dirasakan hak yang paling hakiki. Jadi, terkadang saya berpikiran nakal, atheis jangan disalahkan. Mungkin, atheis kurang dianggap karena manusia dengan aliran atheis cenderung egois, dan itu tak membuat dunia semakin tenteram seperti sebuah pil tidur. Apakah agama bisa dikatakan sebagai pil tidur???

Lagi-lagi keberagaman tadi adalah sebuah anugerah. Semua ramalan yang ada, baik semua dosa, agama, aliran, kiamat adalah kejadian yang hanyalah diciptakan manusia, tepatnya adalah sebuah sistem yang sudah lama dianut manusia dan dirasakan mampu menopang kebutuhan manusia akan penciptanya. Siapa yang pernah merasakan hidup setelah kematian??/ Kayaknya tidak ada. Tuhan sendiri juga tidak pernah datang ke bumi dan mengatakan aliran dan sekelompok orang ini lah yang benar.

Tetapi kali ini, saya hanya menekankan bahwa segala hal kalau dipaksakan akan berakibat buruk. Ketika iman yang dipaksakan akan membebani hidup seseorang. Seseorang yang rela mengorbankan imannya hanya karena cinta. Seseorang yang rela mengorbankan imannya demi peralihan jabatan dalam kantornya. Tetapi, itulah dinamika hidup. Terkadang memang bukan kita lagi yang menyesuaikan diri dgn identitas ( suku, agama, ras, dll ) tetapi sekarang, hal itu sudah berkebalikan. Dan yang paling saya sesalkan adalah identitas sebagai alat dalam kemasyarakatan. Alat propaganda, hasut-menghasut, dll. Dan juga kita mau enaknya saja akan kepercayaan tertentu.