spmb_isian

" Kau sudah bayar ( sekian puluh jutaan terhadap suatu fakultas universitas tertentu ), ya harus dilanjutkan dong. Ngapain kau coba-coba yang lain. Buang-buang duit tahu !!! Kau tahu nggak kalo zaman sekarang susah mencari duit. Liat orang lain yang gak bisa kuliah karena gak ada uangnya "

Itulahkata-kata yang keluar dari seorang ibu yang boleh dikatakan ibu yang sangat rewel ( dan biasanya memang itulah jati diri ibu-ibu yang sebenarnya ). Kerewelan adalah lambang kesejatian seorang orangtua yang tidak rela akan uang nya yang hilang begitu saja apabila dihadapkan dengan gambling yang dalam hal ini diposisikan sebagai reaksi pendidikan Indonesia yakni penerimaan perguruan tinggi. Tetapi tidak lah masalah bagi orang yang merasa uang nya bagaikan sepotong tissu yang mungkin diusapkan langsung dibuang dan hanya untuk melap keringat saja. Yang menjadi masalah adalah ketika hal itu berhadapan dengan putera-puteri bangsa yang tidak mampu tetapi mau dan mampu melanjutkannya. Hal inilah yang menjadi dilema. Dimana para pemerintah dituntut untuk adil bagi seluruh masyarakatnya. Bagaimana seorang kecil bisa sekolah dan pengusaha bisa menikmati fasilitas pendidikan itu tanpa mematikan orang kecil, tetapi beriringan dan maju bersama.

“ sebuah updates facebook “ __ sory buat teman-teman yang merasa dirugikan, aku dah diterima di FK UI, tetapi tak aku ambil kog___

Bagi beberapa orang, hal itu adalah hal yang lumrah dimana dia adalah orang yang benar-benar pintar dan sudah diterima dan mempunyai cadangan. Kita tidak dapat menyalahkannya juga karena persaingan seperti ini memang harus terjadi dengan metode penginputan mahasiswa yang terjadi zaman sekarang ini.

Untuk orang-orang yang berbeda, setiapnya menimbulkan reaksi yang berbeda juga dan itu termasuk saya. Saya teringat ketika saya tidak diterima di UMB, dan test mandiri PTN. Betapa hancurnya hati saya. Saya mungkin mengutuk orang yang melakukan usaha seperti ini. Dan saya juga terbayang ketika saya hanya mendaftarkan jurusan yang didapatinya karena saya memang sangat menyukai dan mencintai jurusan itu sendiri dimana saya bisa berkembang. Suatu hal yang menyedihkan tetapi memang harus dihadapi.

Universitas di Indonesia lho, bukan UI…Sekarang universitas terkadang dipakai untuk merefleksikan seseorang di tengah masyarakat karena mencerminkan bagaimana seseorang berjuang. Heh,Kamu kuliah dimana???

Ow, saya kuliah di Fakultas Elektro dan Informatika ( dengan nada cemburu sich dari saya yang dulunya harapan saya akan sebuah cita-cita sejak kecil )…Suatu kebanggaan dan itu mewabah dan tertanam dalam diri seseorang terutama apabila mempunyai tempat kuliah yang diidamkan oleh semua orang.

Tak bermaksud menghakimi, tapi setiap orang dan posisinya dipertanyakan secara eksistensinya. Orang dapat merefleksikan bagaimana seorang orangtua dianggap berhasil atau tidak. Masalahnya adalah, orangtua zaman sekarang mulai dikagetkan dengan mahalnya biaya masuk perguruan tinggi. Ow, mungkin pemerintah yang banyak menggunakan privatisasi terhadap perusahaan miliknya sendiri. Kalo kita tilik lebih lanjut, semakin banyak berubah menjadi swasta. Sebenarnya secara positif, dapat memberikan timbal balik bagi pemerintah diantaranya dengan investasi besar-besaran di bidang pendidikan dan peran pemerintah diwujudnyatakan dalam pengawasan yang berarti pemerintah tidak lagi terlalu bersusah-susah menangani pendidikan dalam proses dan biaya. BLU ( badan layanan umum ) yang telah dilakukan terhadap beberapa universitas terkemuka terkadang dipandang berat mata.:neutral:

Saya teringat akan pesan Boediono, calon wapres indonesia yang ahli ekonomi dimana adalah suatu tindakan yang tepat bahwa pasar harus dibuat bersaing, karena pasar adalah hal yang sangat murah terjadinya ketimbang dengan pemerintah. Tapi pemerintah tak boleh tidur dengan semua ini. Adalah dilema bagi suatu pemerintah ketika harus menghadapi kenyataan seperti ini. Semua ada kelebihan dan kelemahannya. Memang sich, kalau pemerintah selalu menyokong dan mensubsidi warganya agar bisa kuliah dengan baik, pinjaman harus dilakukan. Tetapi, keadaan ini membuat pemerintah membuat kebijakan yang notabene disetujui oleh DPR yang berarti pemeintah sudah gerah dengan berbagai subsidi. Tetapi membiarkan saja kayaknya tidak bisa karena pemerintah adalah abdi masyarakat yang membantu menuju tujuan adil dan sejahtera menurut pancasila.

Keadaan ini membuka mata kita untuk menghargai yang namanya ilmu. Kalaulah Jepang selalu mengutamakan pendidikan dalam negara-Nya, kita juga harus bisa seperti mereka. Pendidikan adalah dunia yang sangat luhur dan dapat menunjang perkembangan hidup kita bangsa Indonesia. Kalau di daerah Batak itu, orangtua selalu mengusahakan agar anaknya bersekolah dan terungkapa dalam suatu fameo besar “ anakhonhi do hamoraon di ahu “…. Biasanya mereka sampai berhutang dan bahkan sampai berusaha mati2an demi anaknya yang nantinya dapat membahagiakan dirinya sendiri. Secara tidak langsung dalam hal ini kunyatakan bahwa mereka orangtua Batak pengen sesuatu penghargaan dari orang lain bahwa semua anaknya telah berhasi mencapai apa yang telah dicita-citakan. Apabila hal ini tidak terjadi, adalah alamat kegagalan yang berasal dari masyarakat ditujukan kepada mereka.

Terlepas dari semua itu, manusia selalu mepunyai harapan untuk maju dan terus berkembang. Dengan ilmu, mereka dapat menggunakan sesuatu hal tanpa harus mencobanya. Contoh saja, reaksi antara udang dan Vit C yang dimakan sekaligus dapat menimbulkan suatu reaksi yang bertentangan dengan metabolisme kita manusia. Dapat menimbulkan keracunan dan kematian. Kita tidak perlu mencobanya kan kalo kita pernah melihat suatu pengalaman dan eksperimen yang diberikan kepada tikus yang salam hal ini diumpamakan sebagai menusia. Memang sich, kebanyakan dari scientist-scientist dunia selalu mengalami kegagalan dalam hidupnya dalam hal belajar. Rata-rata penemuan mereka berasal dari sesuatu hal yang tidak didapatkan di sekolah dan lain dari yang lain. Dalam hal ini, saya membrikan fakta bahwa, tanpa dasar sekolah mereka tak berarti apa- apa. Dengan suatu keadaan sekolah lah mereka berkreasi dan berkritisasi diri dalam hidupnya.

Dan kita harus mengingat bahwa orang-orang seperti itu adalah 1/10000 dalam kehidupan Indonesia ( teori tertentu yang mungkin dialamatkan bagi orang Indonesia seperti B. J. Habibie dan konco-konconya ). Dan kita harus memahami bahwa memang kita bukan lah orang yang tertarik dengan pendidikan itu sendiri. Menilik lebih dekat keadaan Indonesia yang sebagian besar tanahnya dan wilayahnya menimbulkan persepsi bahwa Indonesia secara formal bukanlah dunia pendidikan formal yang bisa berkembang. Dengan melihat begini pendidikan non formal juga dapat kita pacu karena tak lebih dari itu yang dibutuhkan oleh bangsa adalah PDB yakni produksi dari Indonesia sendiri

INDONESIA HENDAKNYA GIMANA???

Namun, keskeptisan mulai timbul dari orang tua. Mereka terkadang acuh-tak acuh dalam pendidikan itu sendiri. Mereka putus asa ketika peguruan tinggi tidak dapat menjanjikan sepenuhnya kepada mereka bahwa anak mereka dapat menuai hasilnya yakni bekerja dalam suatu institusi tertentu dimana mereka dapat mengaktualisasikan pemikiran dan apa yang telah dipelajarinya di perguruan tinggi. Makanya, keskeptisan orangtua tersebut diwujudnyatakan dalam penonaktifan anaknya, mgkn diberi langsung untuk bekerja mengikuti orangtuanya sendiri. Hal ini tidak dapat disalahkan.

Suatu cara kompensasi dan metode perimbangan yang progresif adalah cara yang dapat saya tawarkan. Teringatlah saya kepada SMA saya yang menggunakan metode ini, dimana seseorang di test dulu secara ilmu apaka dia mampu dengan pendidikan sesuai pilihannya, dan finansial adalah masalah pendukung dan ditempatkan sesudah penerimaan secara test yang berhubungan dengan kemampuan seseorang. Sesudah itu, setiap yang diterima wajib menunjukkan kemampuannya dalam finansial. Hampir sama kayak metode pajak di Indonesia. Bukan hanya kemampuan yang dinyatakan tetapi pihak dai institusi tesebut juga dapat mempertimabngkan aspek sehari-hari yang dapat dibuktikan dengan berbagai administrasi seperti biaya listri, telepon, daftar keluarga yang nantinya dapat mencerminkan kemampuannya…